Oleh :

Musawirah

PSM Ahli Madya BPPMDDT Makassar


 

Beberapa waktu lalu di tanggal 9 s.d. 12 Februari 2026, berkesempatan menjadi pelatih untuk Pelatihan Desa Wisata di Kabupaten Kepualauan Selayar, Provinsi Sulawesi Selatan, menemukan fakta bahwa pemahaman peserta pelatihan tentang Desa Wisata (sebelum mengikuti kegiatan pelatihan), umumnya hanya karena desa tersebut memiliki tempat wisata, atau di desa tersebut terdapat wahana buatan yang dimiliki oleh investor luar. Hal inilah yang mendasari mengapa tulisan ini dibuat, untuk memberikan pemahaman bahwa desa wisata bukan hanya sekedar tempat wisata, tetapi desa wisata adalah sebuah ekosistem kehidupan, sebuah gerakan pembangunan yang digerakkan oleh komunitas (Community Based Tourism) untuk meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri tanpa harus mengorbankan alam dan identitas budaya.



Desa wisata sering kali dipahami secara sempit sebagai tempat rekreasi berbasis pedesaan, atau sebuah desa yang memiliki lokasi dengan pemandangan indah, udara segar, dan suasana tenang untuk melepas penat. Bahkan, bagi sebagian orang, desa wisata mungkin masih sebatas desa yang memiliki latar pemandangan yang instagramable. Padahal, jika ditelisik lebih jauh, esensi dari desa wisata jauh melampaui sekedar destinasi tamasya. Desa wisata merupakan model pembangunan berbasis komunitas yang menggabungkan potensi alam, budaya, sosial, dan ekonomi lokal menjadi sebuah ekosistem pengalaman yang bernilai dan berkelanjutan. Desa wisata memanfaatkan kearifan lokal sebagai elemen utama pengelolaannya. Kearifan lokal ini mencakup keunikan budaya. Tradisi ini telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat. Nilai-nilai otentik inilah yang akan menarik bagi wisatawan.

 

Secara konsep yang ideal, Desa Wisata adalah sebuah kawasan pedesaan yang menawarkan keseluruhan suasana yang mencerminkan keaslian desa tersebut (mulai dari kehidupan sosial ekonomi, sosial budaya, adat istiadat, hingga arsitektur bangunan) yang dikelola secara langsung oleh masyarakat setempat.

 

Pengembangan desa wisata mengikuti model Community Based Tourism (CBT), Pariwisata berbasis Masyarakat, yang memberdayakan masyarakat setempat dalam pengelolaan dan pelaksanaan aktivitas pariwisata. Community Based Tourism (CBT), merupakan fondasi paling esensial dari sebuah desa wisata. Tanpa adanya Community Based Tourism (CBT) atau Pariwisata Berbasis Masyarakat, sebuah desa hanyalah menjadi pabrik wisata yang pada akhirnya berpotensi mengeksploitasi warga dan alamnya sendiri. Konsep CBT inilah yang menjadi pembeda mutlak antara desa wisata autentik dengan destinasi wisata buatan pemodal besar.

 

Community Based Tourism: Roh Utama Penggerak Desa Wisata

 

Pembangunan desa wisata tidak diawali dari seberapa besar modal yang disuntikkan dari luar, melainkan dari kesadaran kolektif warganya. Melalui pendekatan Community Based Tourism (CBT), pariwisata tidak dipaksakan masuk ke desa, melainkan tumbuh dari desa itu sendiri.

 

Pendekatan ini menjamin tiga hal fundamental:

 

1.    Prinsip "Dari, Oleh, dan Untuk Masyarakat" Dalam CBT, masyarakat lokal memegang kendali penuh. Merekalah yang merencanakan atraksi wisata apa yang sesuai dengan nilai-nilai mereka, merekalah yang mengelola operasional sehari-hari (mulai dari pemandu, penyedia homestay, hingga atraksi seni), dan yang terpenting, merekalah penikmat utama keuntungan ekonomi yang dihasilkan. Tidak ada dominasi investor luar yang memonopoli keuntungan.

 

2.    Warga Sebagai Subjek, Bukan Objek Tontonan Sering kali dalam pariwisata konvensional, penduduk lokal hanya menjadi "latar belakang" atau objek foto semata. Dengan CBT, warga desa adalah tuan rumah sekaligus subjek utama. Wisatawan yang datang harus mengikuti aturan main, norma, dan adat istiadat yang berlaku di desa tersebut. Hal ini menciptakan hubungan yang setara dan saling menghormati antara tamu dan tuan rumah.

 

3.    Distribusi Kesejahteraan yang Berkeadilan Sistem CBT dirancang agar "kue ekonomi" pariwisata bisa dinikmati oleh sebanyak mungkin warga. Keuntungan tidak hanya mengalir ke ketua adat atau kepala desa, tetapi juga ke ibu-ibu yang memasak untuk tamu, pemuda yang memandu trekking, hingga seniman lokal yang menyuguhkan pertunjukan. Seringkali, sebagian pendapatan wisata juga disisihkan untuk kas desa guna membangun fasilitas umum atau beasiswa pendidikan anak desa.

 

4.    Pariwisata Sebagai Alat Konservasi, Bukan Destruksi Karena masyarakat adalah pemilik sah dari alam dan budayanya, CBT secara otomatis memicu naluri menjaga. Warga tidak akan membiarkan hutan mereka ditebang untuk resor mewah jika mereka tahu bahwa keasrian hutan itulah yang mengundang wisatawan datang. Budaya tidak dikomersialisasi secara murahan, melainkan dijaga marwahnya agar tetap autentik.

 

Desa wisata menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama, bukan sekadar objek tontonan. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat, tetapi untuk mengalami dan berinteraksi. Mereka belajar tentang tradisi, ikut dalam aktivitas harian warga, mengenal produk lokal, serta memahami kearifan setempat. Dengan demikian, desa wisata berfungsi sebagai ruang edukasi sosial-budaya sekaligus sarana pertukaran nilai antara pengunjung dan tuan rumah.

 

Lebih dari itu, desa wisata adalah instrumen pemberdayaan ekonomi lokal. Ketika dikelola dengan baik, desa wisata menciptakan rantai nilai: homestay, kuliner tradisional, kerajinan tangan, pemandu lokal, pertunjukan budaya, hingga produk pertanian dan olahan. Nilai ekonomi tidak terkonsentrasi pada satu pihak, melainkan tersebar ke berbagai kelompok masyarakat. Model ini memperkuat ekonomi berbasis komunitas dan mengurangi ketergantungan pada sektor tunggal.

 

Dari perspektif pembangunan, desa wisata juga berperan sebagai sarana konservasi. Lingkungan alam, situs sejarah, dan praktik budaya justru menjadi aset utama yang harus dijaga. Karena bernilai ekonomi, masyarakat memiliki insentif langsung untuk melestarikan hutan, sumber air, arsitektur tradisional, serta ritual budaya. Dengan kata lain, pelestarian tidak lagi sekadar kewajiban moral, tetapi menjadi strategi keberlanjutan.

 

Namun, desa wisata bukan otomatis berhasil hanya dengan label dan promosi. Ia menuntut tata kelola: perencanaan partisipatif, kelembagaan lokal yang kuat, pembagian manfaat yang adil, standar layanan, serta kontrol terhadap dampak sosial dan lingkungan. Tanpa itu, desa wisata berisiko berubah menjadi komodifikasi budaya yang dangkal—ramai pengunjung tetapi lemah manfaat bagi warga.

 

Karena itu, desa wisata seharusnya dipandang sebagai platform pembelajaran, pemberdayaan, dan pelestarian—bukan sekadar tempat berlibur. Tamasya mungkin menjadi pintu masuknya, tetapi nilai sejatinya terletak pada pengalaman otentik, keterlibatan masyarakat, dan dampak jangka panjang bagi desa itu sendiri. Jika dikelola dengan visi tersebut, desa wisata bukan hanya tujuan perjalanan, melainkan motor transformasi lokal.

 

Dampak Nyata Sebuah Desa Wisata

 

Ketika sistem CBT berjalan dengan baik, desa wisata menjelma menjadi lebih dari sekadar tempat liburan. Ia membawa dampak transformatif yang bisa kita rasakan secara langsung:

 

1.    Distribusi Kesejahteraan yang Berkeadilan Uang yang dikeluarkan di desa wisata tidak lari ke perusahaan multinasional, melainkan langsung ke kantong masyarakat. Kue ekonomi ini dinikmati secara luas oleh ibu-ibu PKK yang menyediakan katering, pemuda yang memandu trekking, hingga seniman lokal. Ekonomi yang berputar di desa ini juga efektif mencegah urbanisasi, karena para pemuda kini bisa membangun kehidupan yang layak di tanah kelahirannya sendiri.

 

2.    Benteng Konservasi Alam dan Budaya Karena masyarakat adalah pemilik sah dari alam dan budayanya, desa wisata secara otomatis memicu naluri menjaga. Warga tidak akan membiarkan hutan mereka ditebang jika mereka tahu keasrian hutan itulah yang mengundang wisatawan datang. Begitu pula dengan kearifan lokal, budaya; tarian adat, ritual panen, hingga teknik menenun yang tadinya perlahan pudar kini dihidupkan kembali. Kearifan lokal dihidupkan kembali karena masyarakat menyadari bahwa identitas merekalah yang menjadi daya tarik utama. Wisatawan tidak datang untuk melihat gedung bertingkat, melainkan untuk melihat bagaimana sebuah komunitas merawat warisan leluhurnya. Budaya tidak dikomersialisasi secara murahan, melainkan dijaga marwahnya agar tetap autentik.

 

3.    Ruang Belajar yang Membumi bagi Wisatawan Bagi masyarakat perkotaan, desa wisata adalah sekolah alam yang sesungguhnya. Ini adalah tempat untuk melepas atribut "orang kota" dan belajar kembali tentang hal-hal mendasar. Ikut turun ke sawah atau melihat proses pembuatan gula aren membuat kita lebih menghargai proses kehidupan. Interaksi di teras homestay menciptakan pertukaran nilai—wisatawan belajar tentang kesederhanaan, sementara warga desa mendapat wawasan baru dari cerita para tamunya.

 

4.    Menciptakan Pariwisata yang Bertanggung Jawab (Sustainable Tourism). Desa Wisata pada umumnya mengusung konsep pariwisata yang berkelanjutan. Masyarakat sadar bahwa alam adalah aset terbesar mereka. Oleh karena itu, pengelolaan sampah, pelestarian hutan adat, dan perlindungan sumber air menjadi prioritas. Sebagai pengunjung, kita diajak untuk ikut serta menjaga kelestarian lingkungan, bukan sekadar datang untuk mengeksploitasi dan meninggalkan jejak karbon.

 

Dengan memahami bahwa desa wisata digerakkan oleh napas pemberdayaan masyarakat, cara pandang kita saat berlibur pun akan berubah. Membayar paket wisata di desa wisata bukanlah sekadar transaksi komersial, melainkan sebuah investasi langsung untuk memberdayakan komunitas pedesaan. Di desa wisata, kita tidak hanya berjalan-jalan menikmati pemandangan, tetapi kita sedang menyapa kehidupan, merangkul budaya, dan merawat kemanusiaan.

 

Jadi ketika kita mengunjungi desa wisata, mari jadikan kunjungan tersebut sebagai momen untuk terkoneksi kembali dengan alam, dengan sesama manusia, dan pada akhirnya, dengan diri kita sendiri. Datanglah bukan sebagai tamu yang menuntut dilayani, melainkan sebagai sahabat yang ingin belajar.

 

Selamat berkunjung ke Desa Wisata.

Manfaatkan momen liburan lebaran nanti di Desa Wisata.